Irigasi Tetes, sebuah harapan bagi lahan kering

Thursday, January 21, 2010

Irigasi Tetes, sebuah harapan bagi lahan kering




Irigasi adalah upaya untuk mengadakan dan membagi ketersediaan air sesuai lahan yang membutuhkan. Usaha ini dilakukan dengan upaya menyeimbangkan ketersediaan air dan kebutuhan. Berbagai macam jenis irigasi yang bisa digunakan sebagai alternative pilihan sesuai dengan kondisi alam dari tempat yang membutuhkan air. Jenis-jenis irigasi antara lain : irigasi permukaan, irigasi pompa, irigasi air tanah, irigasi curah (sprinkler), irigasi tetes ( drip) dan lain sebagainya.
Sistem Irigasi tetes pada dasarnya berprinsip menggunakan pipa dalam pengaliran air ke tanaman. Irigasi ini dilakukan dengan cara melubangi pipa tiap berjarak 15 cm atau sesuai jarak tanaman. Sistem Irigasi ini memiliki kelebihan dari system irigasi yang lain, yaitu :
 Memiliki efisiensi penggunaan air karena : air langsung dialirkan ke tanaman pokok, tidak rerjadinya penguapan (evaporasi), tidak terjadi pengairan pada air, dan tidak terjadi gerakan air di udara. Hasilnya irigasi tetes memiliki efisiensi hingga 95% dibanding sistem sprinkler yang hanya 50% - 65%.
 Respon tanaman lebih baik karena tidak mengganggu aerasi tanah, dan tidak mengganggu keseimbangan kadar lengas tanah
 Lahan tidak terganggu karena pengolahan tanah dan siraman pada tanah
 Perencanaan konstruksi relative lebih murah bila penyumbatan tidak terjadi pada pipa dan emitter minum. Biaya operasi dan pemeliharaan juga relative murah.
Irigasi tetes pertamakali digunakan di kawasan gurun dimana air sangat langka dan berharga. Pada pertanian skala besar, irigasi tetes cocok untuk sistem pertanian berjajar, untuk buah-buahan, juga sistem irigasi di dalam greenhouse. Irigasi tetes juga menjadi sarana penting di negara-negara maju di seluruh dunia dalam mensiasati pasokan air yang terbatas.
Irigasi tetes tidak melulu harus menggunakan pompa dalam mengalirkan air ke tanaman, tetapi dapat dengan mudah memanfaatkan gravitasi bumi.Cara ini cocokuntuk sumber air yang jauh dari kebun. Tentu saja pemanfaatan gravitasi untuk irigasi tetes lebih menghemat biaya dari pada menggunakan pompa.
Pengaturan waktu penyiraman dilakukan secara manual yaitu dengan cara membuka-tutup kran. Kran sebaiknya dilengkapi dengan filter agar kotoran tidak masuk ke dalam pipa. Namun denganpemanfaatan teknologi yang lebih mutakhir pengaturan waktu penyiraman dapat juga di tambahkan sebuah pengatur waktu (timmer) sehingga secara otomatis akan menyiram tanaman dengan jumlah air yang tepat setiap hari tanpa mengganggu aktifitas petani.

Sumber : dari berbagai sumber.

No comments:

Post a Comment